Terima kasih ‘paus’-nya ya om n tante

June 17th, 2009

Bulan lalu si kecil mendapat kejutan oleh-oleh seekor Paus dari kawan-kawan sepulang mereka berlibur di Siwod Jakarta. Bentuknya yang panjang mirip guling membuat dia selalu mengajak tidur, sebelum si Barney yang minggu lalu datang.

Sebagai ucapan terima kasih, dia minta difoto bersama pausnya disela-sela saya memotret koleksi mukena istri beberapa hari yang lalu.

Thanks for the Whale !

“Terima kasih ‘paus’-nya ya om n tante”, barangkali itulah yang ingin diucapkannya.

Ps. Bagaimana serunya jalan-jalan mereka, bisa dilihat disini

Welly Ardhana DePhotos , ,

Kawan, engkau telah melakukan yang terbaik

June 2nd, 2009

Seorang kawan yang akan mutasi merasa kurang pas dengan kebijakan organisasi yang telah dibuatnya. “Demi mengamankan keberhasilan operasional, stafnya jadi kurang kesempatan untuk berkembang di pekerjaan lain,” demikian ceritanya kepada saya pada suatu siang.

Dari sudut pandang saya, ini sebuah dilema. Sebagai manager sebuah unit operasi yang jika hasilnya benar itu sudah biasa dan jika ada salah akan diinjak-injak, dia punya pilihan yang sama-sama beratnya.

Menjamin operasional aman dengan memberikan kacamata kuda kepada para stafnya, artinya mengurangi kesempatan mereka berkembang dan dikenal di pekerjaan yang lain, atau sebaliknya operasional harus diamankan dengan energi yang lebih babak belur.

Tapi bagaimanapun juga, pilihan harus ditetapkan dan kemudian dijalankan. Saya pikir, inilah kondisi terbaik, kondisi yang kita miliki saat ini, bukan yang sedang atau selalu diidamkan.

Pas atau tidak akan ketahuan setelah kita menimbang pilihan, mengambil keputusan, dan melaksanakannya. Untuk dapat melakukan itu semua sudah barang tentu dibutuhkan kearifan pikir dan wawasan yang luas yang hanya bisa didapat dari pengalaman orang lain yang ditularkan lewat cerita, buku, atau teori dan pengalaman sendiri.

Jika seperti ini alurnya, rasanya saya tidak perlu takut untuk mencoba dan gagal. Saya cuma butuh keberanian mencoba, keberanian menerima apapun hasil yang akan didapat, energi yang lebih untuk berusaha.

Kawan, engkau telah melakukan yang terbaik. Butuh keberanian yang tidak sedikit untuk mengambil resiko. Dalam hal ini, kaulah teladan buat saya dan rekan-rekan yang lain disini.

Semoga sukses ditempat yang baru.

Welly Ardhana Aha!! , ,

Waktu berpikir

May 11th, 2009

Tak jarang orang berkata ‘hidup ini mengalir seperti air di sungai’, berawal dari gunung yang tinggi ke tempat-tempat yang lebih rendah untuk akhirnya sampai kelaut. Ah alangkah mudahnya hidup ini jika selalu mengingat kalimat itu. Simple tapi melenakan, menurut saya.

Melenakan ?!

Ya, jika seperti perahu daun bambu yang saya dan kawan-kawan kecil dulu  sering berlomba di sungai dekat rumah. Kami cari daun bambu, bisa yang sudah rontok atau harus memetik dulu. Kemudian pangkal daunnya ditusukkan ke bagian ujung hingga membentuk segitiga. Setelah semua perahu siap, kami lepaskan serempak sambil meneriakkan kata-kata penyemangat.

Saya jadi tersenyum sendiri jika mengingatnya. Bermain perahu waktu itu memang menyenangkan. Tapi saya tidak mau hanyut begitu saja sepertinya waktu dilepaskan. Terbawa kekanan dan kekiri tergantung kemana riak membawanya.

Barangkali inilah hikmah saya dan kawan-kawan mencoba rafting, mengarungi indahnya sungai, jeram-jeram, batu besar-kecil, dan relung-relung yang tidak ada di kota. Mengalir hanyut, tapi tetap mengendalikan. Untung waktu itu pengendali kami cukup lincah sehingga jeram demi jeram dapat dilewati.

Ah, saya jadi ingin bisa mengendalikan hidup ini, bukan cuma mengalir hanyut. Tapi menghadapi satu per satu tantangan yang ada, mengambil satu-persatu keputusan dengan segala resikonya. Yang pasti tidaklah mudah. Butuh waktu dan pikiran yang jernih.

Saya lebih senang menyebutnya waktu berpikir. Berpikir untuk memahami apa yang terjadi. Berpikir untuk mendefinisikan langkah-langkah apa yang harus dilakukan, keputusan apa yang harus dibuat, dan lain-lain.

Tampaknya efek dari seringnya ikut nonton ‘Tiger and Friends’ yang biasa sikecil tonton sepulang dari kantor sudah menjalar hingga otak kecil ini.

Ada yang belum nonton ? Buruan gih!

Welly Ardhana Aha!!

Penimbun gula

April 29th, 2009

Akhir-akhir ini saya jadi pencinta kopi instan. Selain mudah penyajiannya —boleh dibilang praktis— terdapat banyak pilihan rasa. Barangkali ini bisa dimasukkan kedalam daftar ‘oleh-oleh dari abad ini’ sebagai hasil dari lompatan teknologi perkopian.

Saking cintanya, suatu saat pernah saya coba  bertanya kepada diri sendiri ‘apa penyebab saya minum kopi, butuh atau sekedar kepingin ?’ jawabannya nggak lain adalah kepingin. Memang ada yang bilang kopi bisa jadi pengusir kantuk dikala kerja. Sayapun tidak bisa mungkir walau secara teknis bagaimana hubungan zat-zat yang terkandung dalam segelas kopi dan rasa kantuk.

Segelas kopi juga punya fungsi sosial. Dikampung, disetiap berkumpulnya beberapa orang, minuman ini tidak akan terlewatkan. Dijalan-jalan dapat dengan mudah dijumpai warung-warung kecil yang jualan utamanya adalah menyajikan minuman ini. Pesennya segelas, duduk dan ngobrolnya berjam-jam. Demikian guyonan untuk mereka-mereka yang sering absen kesana.

Kembali ke kopi instan, berhubung dalam sehari umumnya menghabiskan 2 sachet atau lebih, secara tidak sadar saya mulai jadi penimbun gula yang efektif. Sesuatu yang mulai mengkhawatirkan mengingat postur tubuh yang tidak ideal dikarenakan hobi makan, malas olah raga —sekedar jalan kaki pagipun tidak, dan kebiasaan-kebiasaan buruk terhadap kesehatan yang lainnya. Untungnya saya tidak merokok, dan selalu sebel ke asap rokok, apalagi asap knalpot bus :)

Ah, seandainya saya jadi penimbun gula dan kopi dalam arti sebenarnya…..

Welly Ardhana Others ,

Mohon maaf jika tidak kebagian tempat

April 20th, 2009

Lima hari lagi perhelatan rekan-rekan komunitas fotografi Telkom (Foto135) akan digelar kembali menyusul suksesnya  kegiatan yang sama pada Februari lalu (Liputannya ada disini). Masih dengan nama yang sama ‘Reveal The Secret’, training fotografi dasar ini sudah memasuki angkatan ke 2.

Mengapa dasar fotografi ? penjelasannya sangat sederhana.
Sebuah foto yang bagus, bukan berawal dari alat (kamera) apa yang digunakan, tetapi dari bagaimana ‘man behind the gun’ melakukan eksekusinya karena alat hanyalah media. Dia tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa orang dibelakangnya.
Jadi akan sangat baik jika sebelum memotret, orang yang memegang kamera sudah mengetahui seperti apa komposisi yang baik, sudut pengambilan gambar (angle) yang cocok, kapan waktu terbaik memotret, dan lain-lain.
Bagi rekan-rekan yang berminat, info lengkapnya ada disini. Karena tempat terbatas, mohon maaf jika tidak kebagian tempat.

Sampai jumpa di lokasi ;)

Welly Ardhana Others