Presents for the bride

January 26th, 2010 § 0

I just loved the concept, although not unique, but still challenging imagination. Plus more impressed when a sudden. Brainstorming Friday night, Sunday morning must have photographed. Instead of blocking, it actually becomes gasoline for this burning passion.

IMG_2671b_lo

Not everyone is going to my pictures arrived with a draft. This is what I like about a pair of Adam this time. The concept has great hands. And when it came out of the warehouse idea, I’m responsible  to make it real.

Well, nice work with … because I consider you a couple of colleagues who make dreams come true. I love it … love it ….  This is a presents for you ….

Welcome a new life, hopefully soon get a lot of kids that would not be lonely at home.

Tantangan

December 4th, 2009 § 0

Pada level tertentu, membuat foto menjadi tidak semudah telunjuk menekan tombol shutter, tetapi menjadi penuh tantangan karena konsep yang dibangun membutuhkan object yang sulit ditemukan. Ataupun kalau bisa harus melalui usaha yang tidak sedikit. Dan tantangan itulah yang menjadi nilai lebih hasilnya.

Sebuah video yang saya temukan siang ini di Wonderfull Machine Channel yang ada di Youtube menggambarkan situasi itu. Stephen Voss —seorang fotografer dari Washington— sedang menghadapi situasi seperti itu, hanya diberi waktu 90 detik untuk membuat foto Mikhail Gorbachev. Wow.

Saya katakan, ini salah satu contoh eksekusi pengambilan gambar yang berhasil. Tapi bukan hanya karena seorang SV saja, melainkan teamwork yang baik dari orang-orang yang berada dibelakang foto tersebut. Petugas yang menyiapkan lighting, art director, administration support, dan MG sendiri yang sangat cooperatif dalam waktu yang singkat. Semua itu berhasil meningkatkan value dari foto yang dihasilkan.

Mari dekatkan diri pada tantangan, karena sebuah fotopun memilikinya.

Biaya Kreatifitas

November 25th, 2009 § 0

Pernahkah Anda tiba-tiba saja mendapatkan ide untuk membuat sesuatu yang mungkin lain dari pada yang lain ? Tiba-tiba saja semangat menjadi membara dan adrenalin memuncak. Makan tak hendak, tidur tak nyenyak, pikiran menghentak. Kreatifitas sungguh membuncahkan jiwa.

Seiring waktu, saya jadi salut dengan mereka-mereka yang berani mengungkapkan ide kreatifnya itu kedalam dunia nyata. Memaksanya keluar dari kungkungan limitasi realita yang ada. Bukankah butuh suatu keberanian tersendiri untuk mengadakan sebuah even pentas jazz di tengah-tengah pedesaan yang selama ini mengenal budaya mereka sendiri seperti acara Ngayogjazz 2009 kemarin yang sempat saya datangi berbasah-basah ? Salut buat penggagasnya (kl gak salah pak Djaduk ya —CMIIW ).

Ah kenapa beberapa hari ini pikiran saya tidak pernah beranjak dari persoalan kreatifitas (yang saat ini saya sering kebingungan menuliskannya harus menggunakan huruf ‘F’ atau ‘V’). Lihat saja oleh-oleh saya dari Jogja kemarin (jelas bukan bakpia!!).

Lalu saya teringat percakapan dengan kawan baru tentang sebuah konsep foto unik yang dia siapkan dan akan dieksekusi diseputaran Parangtritis dengan tema seputar air api karang.  Detil sudah tergambar jelas di imajinasinya. Bahkan hingga dari mana dia harus mengambil foto dan alat apa saja yang dibutuhkannya. Dan itu harus dipikulnya karena misi yang diusung adalah pribadi. Wow…. Inikah yang disebut dengan biaya kreatifitas ?

Saya percaya jawabnya adalah YA! Setiap kreatifitas selalu membutuhkan biaya, bahkan setitik keberanianpun adalah sebuah biaya karena kata biaya tidak hanya terkait dengan dongeng tentang rupiah saja. Karenanya tidak punya uang bukanlah 100% masalah dalam sebuah kreatifitas.

Jadi, tunggu apa lagi, mari bersama melarutkan diri kedalam dunia yang lebih kreatif. Apa ide kreatifmu hari ini ?

Menjaga level kreatifitas

November 24th, 2009 § 4

IMG_2883 copy

Ada yang bilang, seni adalah olah rasa. Panca indera menangkap semua rangsangan yang terjadi untuk dikirimkan ke otak dan hati yang kemudian dikembalikan lagi ke lingkungan melalui indera lewat bentuk yang berbeda. Tapi ah… saya bukanlah seorang yang paham akan hal itu pun juga mahir. Saya cuma mengandalkan rasa dan logika tapi juga tidak lepas dari tuntunan religi yang saya anut.

Sama dengan cabang seni yang lain, bagi saya foto juga merupakan media mengolah rasa yang membutuhkan kepekaan. Semakin banyak merasa, semakin pekalah seseorang, ini berarti semakin lebar jalan untuk membuat karya yang bernilai. Untuk itu rasa perlu senantiasa diberi asupan gizi yang cukup guna mempertahankan levelnya, bahkan meningkatkannya.

Biasanya, asupan itu saya dapatkan dengan melihat foto-foto yang ada diinternet, majalah, atau dimanapun. Membaca buku juga gizi yang bagus. Tapi yang paling asyik adalah mendatangi tempat-tempat yang menyajikan nuansa kreativitas yang tinggi karena banyak hal yang tidak terbayangkan sebelumnya dapat ditemui.

Seperti yang saya temui di Malioboro beberapa waktu lalu bersama seorang kawan. Kami masih dapat menyaksikan sisa-sisa event murak disepanjang jalan yang terkenal di Jogja itu yang bertemakan kepahlawanan. Geli, kagum, semangat menderu menyatu saat menikmati lembar demi lembar triplek yang menjadi medianya. So emosional…

IMG_2884

Lalu, apa cara menjaga level kreatifitas Anda ?

Akunya saya

November 19th, 2009 § 1

Hari-hari belakangan ini gelap lebih cepat datang, lepas jam 3 sore sudah redup, malah kadang matahari tidak muncul sejak pagi hari. Tetes hujan lebih memiliki kemungkinan turun di hari-hari begini. Jika sudah begitu, tidak sedikit gerutu yang muncul.

Makan siang terhambat lah, jalanan macet lah, banjir lah, pulang telat lah. Semuanya tentang aku, aku, dan hanya aku. ‘Aku’nya manusia. Tapi tidak ditempat lain. Bagi mereka hujan membawa berkah. Lihat saja ojeg payung, tukang becak, atau sopir angkot. Hujan memudahkan jalan mereka mengais rejeki.

IMG_2571

‘Aku’nya saya pun masih sering muncul menggelapkan mata. Gerutu-gerutu datang silih berganti. Ah… dasar aku. Hingga tak menyadari flamboyan (Delonix regia) berbunga indah dijalanan yang tiap hari dilewati.

Partner links