Tantangan memotret model adalah mendapatkan hasil yang sesuai dengan konsep. Meleset dari konsep, dijamin gak bakalan tenang hati ini. Seperti bisul, digaruk sakit, tidak digaruk kok ya ngegemesin.

Selayaknya dilain bidang, konsep sebuah foto awalnya sebuah fantasi pribadi dari pemotretnya. Yang namanya fantasi tidaklah ada yang dapat membatasi, barangkali hanya kemampuan untuk mewujudkannyalah yang menjadi penghalang, atau lebih tepatnya disebut tantangan.

Tantangan-tantangan itu bisa dianggap seperti persediaan kayu jati bakar untuk memanaskan ketel uap sebuah kereta api yang akan membawa masinis dan seluruh penumpangnya ke tujuan. Karenanya perencanaan detil merupakan kunci sukses dari sebuah konsep foto. Semakin banyak detil konsep yang disiapkan, semakin besar kemungkinan konsep dapat dilaksanakan.

Lalu apa saja yang perlu dipikirkan dari sebuah konsep foto model ? Tidak lain dan tidak bukan adalah tema, siapa yang jadi model, wardrobe, lighting, makeup dan pose. Keberhasilan konsep yang diusung akan dapat dirasakan dari setiap frame-frame foto yang diambil di lapangan.

Namun, walau konsep sudah ditangan, bukan berarti  eksekusi—demikian saya sering menyebut proses pengambilan foto— akan 100% mulus. Kadang adjustment perlu dilakukan di tengah jalan tetapi harus diusahakan tidak menyimpang dari konsep awal. Rasanya ini juga berlaku untuk disemua hal deh. Disini peran wawasan dan flexibilitas juru potret diuji, manfaat mempunyai bekal  pengetahuan dasar kefotografian akan terasa sekali disaat begini. Jika tidak, wew 100% ill feel akan datang menyerang bertubi-tubi.

Jika itu menyerang, mood entah lari kemana, bisa jadi sang model akan tertular. Haha berabe dah. Saya pernah mengalaminya, biasanya saya akan berhenti sejenak mencoba mengalihkan perhatian. Semacam Time Break untuk anak gitu deh. Untuk kemudian mencoba beberapa frame lagi.

Jika masih tetap … artinya saya harus menelan mentah-mentah ill feel itu !