Alhamdulillah Ujian Nasional (UN) untuk SMU sudah lewat. Betapa lega mereka yang berhasil melaluinya. Dan tinggal menanti saatpengumuman hasil beberapa saat kedepan. Beberapa mungkin mengisi hari-hari penantian ini dengan melepas penat, tapi beberapa lagi barangkali sudah berancang-ancang untuk menata langkah meraih masa depan lebih baik.

Saya teringat berpuluh tahun yang lalu. UN merupakan hajatan besar bagi siswa-siswi waktu itu.  Pertaruhan hasil kegiatan belajar selama beberapa tahun yang tak kenal lelah. Sungguh saat itu kami jauh dari pikiran untuk protes karena tidak fair menggunakan sistem itu. Entah karena tidak berani, tidak punya waktu untuk berpikir itu ataupun karena tidak pernah diberikan opsi untuk mempertibangkan faktor fair ataupun tidak.

Padahal, bagi kami nilai yang akan keluar nantinya tidak lebih akan menjadi gumaman-gumaman kumbang di tengah taman bunga. Ada yang berteriak kegirangan, ada yang berangkulan, ada yang tak percaya temannya yang tidak disangka sejak awal berhasil mendapat nilai tertinggi, dan beragam ekspresi lainnya.

Saya yakin kini masih sama. Bedanya banyak opsi yang bisa dimiliki oleh otak cemerlang para siswa sekarang. Menerima untuk kemudian berlaku jujur menjalaninya, menolak karena merasa tidak fair, tapi toh tetap saja harus mengikutinya dengan mencoba mengambil jalan pintas (mencuranginya) dan lain-lain. Penyelenggara UN pun sekarang harus lebih teliti karena banyak lembaga-lembaga pengawas yang siap untuk memonitor kerja mereka 24 jam tanpa lelah agar tidak terjadi penyimpangan.  Dan semuanya pun berharap hasilnya akan lebih baik dari tahun ke tahun.

Mengenai hasil yang lebih baik, bagi saya tidak ada bisa menandingi apa yang dilakuakan oleh Ibu. Setiap memasuki waktu ujian baik EBTA, EBTANAS (nama UN waktu itu), atau THB (Test Hasil Belajar) tiap empat bulan, ibu membuat jadwal spesial buat saya. Alih-alih menyenangkan, yang ada hanyalah  membosankan menurut saya waktu itu.

Dihari-hari biasa, saya dan ibu sudah punya kesepakatan tentang jadwal kegiatan sehari-hari, demikian juga dengan kakak. Masing-masing punya tugas rumah tersendiri. Begitu jadwal ujian datang, maka resmilah jadwal kegiatan baru saya, makan – mandi – shalat – dan belajar ! Kegiatan lain tidak!!!

Ada saat-saat saya ingin berontak dikala itu, tapi apa daya. Saya tidak mau jadi batu seperti si Malin Kundang!  Dan itulah yang terjadi selama bertahun-tahun setiap ada ujian.

Pun demikian saat saya sudah bersekolah jauh dari orang tua. Walau tidak ada ibu disana, kegiatan keseharian berubah dengan banyak membaca buku pelajaran. Rupanya, ‘keterpaksaan’ itu menancap dalam dan membentuk perilaku khusus setiap menghadapi ujian. Walau pelaksanaannya sudah berubah jauh karena saya lebih santai di kamar kos dengan bebunyian dari radio.

Sekarang, sekolah saya bukanlah duduk dibangku kelas lagi. Sekolah saya adalah dunia ini. Dunia, interaksi, dan semua problematikanya. Saya sangat berharap sekali ibu akan selalu ada. Paling tidak semangat, yang akan saya turunkan ke cucunya, tentunya dengan penyesuaian jaman.

Terima kasih Ibu….. Aku kangen…