Menjaga level kreatifitas

IMG_2883 copy

Ada yang bilang, seni adalah olah rasa. Panca indera menangkap semua rangsangan yang terjadi untuk dikirimkan ke otak dan hati yang kemudian dikembalikan lagi ke lingkungan melalui indera lewat bentuk yang berbeda. Tapi ah… saya bukanlah seorang yang paham akan hal itu pun juga mahir. Saya cuma mengandalkan rasa dan logika tapi juga tidak lepas dari tuntunan religi yang saya anut.

Sama dengan cabang seni yang lain, bagi saya foto juga merupakan media mengolah rasa yang membutuhkan kepekaan. Semakin banyak merasa, semakin pekalah seseorang, ini berarti semakin lebar jalan untuk membuat karya yang bernilai. Untuk itu rasa perlu senantiasa diberi asupan gizi yang cukup guna mempertahankan levelnya, bahkan meningkatkannya.

Biasanya, asupan itu saya dapatkan dengan melihat foto-foto yang ada diinternet, majalah, atau dimanapun. Membaca buku juga gizi yang bagus. Tapi yang paling asyik adalah mendatangi tempat-tempat yang menyajikan nuansa kreativitas yang tinggi karena banyak hal yang tidak terbayangkan sebelumnya dapat ditemui.

Seperti yang saya temui di Malioboro beberapa waktu lalu bersama seorang kawan. Kami masih dapat menyaksikan sisa-sisa event murak disepanjang jalan yang terkenal di Jogja itu yang bertemakan kepahlawanan. Geli, kagum, semangat menderu menyatu saat menikmati lembar demi lembar triplek yang menjadi medianya. So emosional…

IMG_2884

Lalu, apa cara menjaga level kreatifitas Anda ?

Akunya saya

Hari-hari belakangan ini gelap lebih cepat datang, lepas jam 3 sore sudah redup, malah kadang matahari tidak muncul sejak pagi hari. Tetes hujan lebih memiliki kemungkinan turun di hari-hari begini. Jika sudah begitu, tidak sedikit gerutu yang muncul.

Makan siang terhambat lah, jalanan macet lah, banjir lah, pulang telat lah. Semuanya tentang aku, aku, dan hanya aku. ‘Aku’nya manusia. Tapi tidak ditempat lain. Bagi mereka hujan membawa berkah. Lihat saja ojeg payung, tukang becak, atau sopir angkot. Hujan memudahkan jalan mereka mengais rejeki.

IMG_2571

‘Aku’nya saya pun masih sering muncul menggelapkan mata. Gerutu-gerutu datang silih berganti. Ah… dasar aku. Hingga tak menyadari flamboyan (Delonix regia) berbunga indah dijalanan yang tiap hari dilewati.

Sensasi pagi ini

Tidak ada yang lebih seru dari pada sebuah kerja keras dengan hasil yang memuaskan. Salah satu sensasi nikmatnya adalah saat sebuah tarikan nafas panjang kelegaan saat dapat mengakhirinya dengan baik. Itulah yang saya rasakan pagi ini.

Tepat pukul 1:00 tanggal 3 November 2009, terdengar suara diujung telpon sana:

Bismillahirahmannirahim ….. Bismillahirahmannirahim ….. Bismillahirahmannirahim ….. Dengan ini website andrea-hirata.com resmi di luncurkan.

ahcom
Nafas legapun menyambung, kantuk dan lelah tiba-tiba menghilang ditengah pengapnya pagi ini. Buah dari sharing pemikiran sudah dapat terlihat dengan baik.

***

Bekerja dengan seorang seniman seperti Mas Andrea cukup unik. Jiwa yang peka menyebabkan pengamatan yang kritis terutama soal rasa jadi bumbu utama selama persiapan website ini. Tak jarang ini membuat saya seperti disengat lebah, kelimpungan untuk dapat segera mengikuti semangatnya yang tidak pernah berhenti untuk melompat-lompat energik.

Untuk sesaat kedepan, saya dapat meluruskan badan sejenak, setidaknya sampai jam 5 pagi nanti untuk kemudian melanjutkan semuanya kembali. Karena meluncurkan sebuah website bukanlah akhir tapi awal dari pengalaman menarik lain yang akan datang. Dan saya yakin itu!

Zzz…zzz…z..zzzz

Ill feel

Tantangan memotret model adalah mendapatkan hasil yang sesuai dengan konsep. Meleset dari konsep, dijamin gak bakalan tenang hati ini. Seperti bisul, digaruk sakit, tidak digaruk kok ya ngegemesin.

Selayaknya dilain bidang, konsep sebuah foto awalnya sebuah fantasi pribadi dari pemotretnya. Yang namanya fantasi tidaklah ada yang dapat membatasi, barangkali hanya kemampuan untuk mewujudkannyalah yang menjadi penghalang, atau lebih tepatnya disebut tantangan.

Tantangan-tantangan itu bisa dianggap seperti persediaan kayu jati bakar untuk memanaskan ketel uap sebuah kereta api yang akan membawa masinis dan seluruh penumpangnya ke tujuan. Karenanya perencanaan detil merupakan kunci sukses dari sebuah konsep foto. Semakin banyak detil konsep yang disiapkan, semakin besar kemungkinan konsep dapat dilaksanakan.

Lalu apa saja yang perlu dipikirkan dari sebuah konsep foto model ? Tidak lain dan tidak bukan adalah tema, siapa yang jadi model, wardrobe, lighting, makeup dan pose. Keberhasilan konsep yang diusung akan dapat dirasakan dari setiap frame-frame foto yang diambil di lapangan.

Namun, walau konsep sudah ditangan, bukan berarti  eksekusi—demikian saya sering menyebut proses pengambilan foto— akan 100% mulus. Kadang adjustment perlu dilakukan di tengah jalan tetapi harus diusahakan tidak menyimpang dari konsep awal. Rasanya ini juga berlaku untuk disemua hal deh. Disini peran wawasan dan flexibilitas juru potret diuji, manfaat mempunyai bekal  pengetahuan dasar kefotografian akan terasa sekali disaat begini. Jika tidak, wew 100% ill feel akan datang menyerang bertubi-tubi.

Jika itu menyerang, mood entah lari kemana, bisa jadi sang model akan tertular. Haha berabe dah. Saya pernah mengalaminya, biasanya saya akan berhenti sejenak mencoba mengalihkan perhatian. Semacam Time Break untuk anak gitu deh. Untuk kemudian mencoba beberapa frame lagi.

Jika masih tetap … artinya saya harus menelan mentah-mentah ill feel itu !

Big thanks to Rase fm

Terima kasih buat Crew Rase FM atas souvenirnya hari Jumat lalu. Semakin menambah semangat untuk membangun foto yang lebih baik lagi nih. Well, this photo is for you :)


IMG_7666 welly ardhana_750